Undergraduate Program of Nutrition Science

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Written on 6 September 2017 , by admin gizi , in category News

WhatsApp Image 2017-09-05 at 12.58.01

29/08. Tempe merupakan salah satu makanan tradisional dan warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat populer. Kepopuleran tempe tersebut ditunjang oleh harganya yang relatif murah, rasanya enak, kandungan gizinya lengkap, memiliki potensi manfaat kesehatan, dan mudah diolah menjadi berbagai hidangan makanan. Dengan kepopuleran tersebut tempe berpotensi untuk diperkenalkan di kancah internasional.

Jumlah unit usaha tempe di Indonesia diperkirakan mencapai 95.000 unit usaha dan sebagian besar berasal dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Tempe yang diproduksi oleh UMKM pada saat ini, masih memiliki banyak hal yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi kualitas, proses produksi, maupun penanganan pasca produksi; mengingat proses produksi tempe oleh UMKM umumnya kurang menerapkan standar keamanan pangan. Salah satu alasan pengrajin tempe yang tidak menerapkan standar keamanan pangan adalah kurangnya pengetahuan pengrajin mengenai standar keamanan pangan. Hal ini menjadi tantangan terbesar untuk meningkatkan kepopuleran tempe dan kepercayaan masyarakat kepada UMKM tempe. Melihat keadaan tersebut maka diperlukan sosialisasi kepada pengrajin tempe mengenai penerapan GHP. Mengingat jumlah UMKM tempe yang begitu banyak, maka diperlukan trainer untuk menyampaikan informasi mengenai penerapan Good Hygienic Practices (GHP) dalam proses produksi tempe. Sehingga perlu diadakan acara Training of The Trainers dengan tema ”Penerapan Good Hygienic Practices dalam Proses Produksi Tempe”.

Kegiatan ini dihadiri oleh 25 peserta yang berasal dari dosen, alumni, dan mahasiswa Universitas Brawijaya, yang merupakan salah satu stakeholder yang berkaitan dengan sektor industri tempe. Diharapkan dengan diselenggarakan Training of The Trainers Workshop dapat memberikan informasi dan pemahaman mengenai sejarah tempe hingga penerapan GHP dalam proses produksi tempe kepada para pelatih agar dapat menyampaikan kembali kepada pengrajin tempe di sekitarnya.